Senin, 25 April 2011

HUKUM MEROKOK

Ketika itulah baru bermunculan pendapat-pendapat dari kalangan para ulamak
mengenai hukumnya. Pelbagai risalah/kitab yang ditulis mengenainya.
Secara ringkasnya, terdapat 4 pendapat tentang hukum merokok, yaitu:
1. Haram
2. Makruh
3. Boleh
4. Memperincikan hukum

Berikut ini adalah perinciannya:
1. Haram
Para ulamak dari golongan pertama mengatakannya sebagai haram secara mutlak.
Mereka mengharamkannya atas sebab-sebab berikut:

1. Asap dan bau rokok adalah keji. Firman Allah Taala:
(Al-A’raf:157)

2. Rokok mengakibatkan kematian sebahagian penghisapnya. Firman Allah Taala:
(Al-Nisaa’:29)

3. Membelanjakan wang untuk rokok merupakan suatu pembaziran. Kerana rokok
tidak membawa sebarang faedah. Firman Allah Taala:
(Al-Isra’:26)

4. Rokok mengandungi kemudaratan yang diakui oleh para doktor. Sabda
Rasulullah s.a.w.:
"Tidak boleh memberi mudarat dan tidak memudaratkan." (HR Malik, Daruquthni & Jamaah)

5. Asap dan bau rokok adalah kotor/tidak bersih. Sabda Rasulullah s.a.w.:
‘Allah itu bersih dan Dia cintakan kebersihan" (HR al-Bazzar)

6. Merokok dapat menyakiti orang yang bersebelahan atau berhampiran
dengannya. Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan dan akhirat, janganlah menyakiti
jirannya." (HR Bukhari & Muslim)

2. Makruh
Para ulamak yang berpendapat bahawa rokok itu makruh adalah dengan beberapa
alasan, antaranya ialah:
1. Merokok memudaratkan kesihatan, lebih-lebih lagi jika ia dihisap dengan
banyak. Manakala yang menghisap sedikit, jika dihimpun-himpun akan menjadi
banyak juga.
2. Mengurangkan harta, sekalipun tidak sampai ke peringkat membazir.
Padahal, jika duit itu digunakan untuk perkara-perkara yang bermafaat adalah
lebih baik lagi.
3. Bau dan asap rokok yang tidak enak boleh menganggu dan menyakiti orang
lain. Sama seperti orang yang memakan bawang mentah, petai, jering dsbnya.
4. Masyarakat memandang rendah orang yang menghisap rokok.
5. Melalaikan seseorang dari mengerjakan ibadah secara sempurna.
6. Orang yang ketagihan rokok, fikirannya menjadi tidak keruan apabila tidak
dapat merokok dalam jangka waktu tertentu.

Syeikh Abu Sahal Muhamad bin al-Wai’z al-Hanafi mengatakan bahawa kemakruhan
merokok disabitkan dengan dalil yang pasti (qath’I), sedangakan keharamannya
disabitkan dengan dalil yang zhanni (tidak pasti).

3. Boleh
Semuanya itu pada asalnya adalah halal. Sedikitpun tidak haram. TETAPI…Ia
akan bertukar menjadi haram seandainya:

a. Ada dalil yang mengharamkannya. Seperti daging babi, asalnya adalah
halal, tetapi sebab ada ayat al-Quran yang mengharamkannya, maka ia bertukar
menjadi haram. Jadi, babi itu haram dimakan bukan sebab dirinya itu haram,
tetapi sebab al-Quran mengharamkannya.

b. Di bawah satu dalil atau kaedah umum yang membawa kepada hukum haram.
Seperti, ada ayat al-Quran yang secara umum melarang membunuh jiwa. Jadi,
kalau kita memakan racun yang boleh membawa maut, maka haram hukumnya. Asal
racun itu adalah halal, tetapi oleh kerana ayat suatu ayat umum yang
melarang membunuh jiwa, maka racun itu bertukar menjadi haram dimakan.

c. Diqiyaskan dengan kepada sesuatu yang haram, yang illahnya bersekutu pada
keduanya. Contohnya, dadah. Mana ada di dalam al-Quran yang menyatakan
secara jelas tentang haramnya dadah. Tetapi, ia diqiyaskan dengan khamar
yang secara jelas diharamkan oleh al-Quran. Khamar diharamkan kerana
memabukkan. Kerana memabukkan itulah yang disebutkan sebagai illah (penyebab
hukum berlaku). Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahawa setiap perkara yang
ada illah itu adalah haram hukumnya. Dadah, ada atau tidak illah tersebut
(memabukkan)? Sudah tentu ada! Maka dadah juga dihukumkan haram seperti
arak.

Dalil yang digunakan untuk mengharamkan rokok dilalahnya (petunjuk hukum)
bersifat zhanni (tidak pasti). Perkataan keji di dalam ayat yang diberi –
adalah tidak tepat jika memasukkan asap rokok ke dalam sebahagian dari
maksud `keji’ yang dikehendakki oleh al-Quran. Begitu juga dengan membunuh
jiwa. Ia tidaklah secara yakin berlaku kepada semua perokok dan dalam semua
keadaan. Mengenai kemudaratan merokok pula, tidaklah semua yang memudaratkan
itu haram hukumnya. Ada mudarat yang tidak haram. Kemudaratan adalah sesuatu
yang besifat nisbi – ada yang haram dan ada yang makruh. Tentang hujah
mengatakan ia menyakitkan/mengganggu, sama seperti memudaratkan. Tidak
semuanya haram, ada juga menyakitkan itu hanya makruh sahaja. Samalah halnya
dengan hujah lain yang diketengahkan, yaitu: kebersihan dan pembaziran.
Tidak semuanya haram, kerana di sana ada yang makruh sahaja hukumnya.

Komentar :
Mengingat mudharatnya yang sangat jelas, nampaknya pendapat 1 dan 2, lebih
hati-hati

Tarjih

1. Dr. Yusof al-Qardhawi lebih cenderung kepada hukum haram merokok..
2. Para ulamak Hijaz juga cenderung kepada hukum haram merokok.
3. Syeikh Mahmud Syaltut cenderung kepada hukum haram merokok.
4. Syeikh Abu Sahal Muhamad bin al-Wa’izh al-Hanafi condong kepada hukum makruh.
5. Syeikh Abdul Ghani al-Nabilisi mengatakan boleh
6. Syeikh Athiyah Saqr condong kepada pendapat yang memperincikan hukum merokok.

Hukum ber-PACARAN HARAM kah ???





Setiap saya jalan-jalan yang saya lihat begitu banyak muda-mudi yang sedang ber-PACARAN. Hal ini membuat saya ingin merasakan rasanya ber-PACARAN. Tapi hal ini juga membuat saya bertanya-tanya tentang PACARAN itu :

* Apa sih hukum ber-PACARAN ?

* Apa gunanya ber-PACARAN ?

* Apakah Nabi Muhammad SAW pernah ber-PACARAN ?

Berikut Jawabannya :

* Apa sih Hukum Berpacaran ?

Hukum Berpacaran itu Haram , karena merupakan perbuatan yang Mendekati Zina,
Sebagaimana Firman Allah SWT :

"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' : 32)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. Maka
segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah
diHARAMkan pula oleh Allah.

Sedangkan PACARAN adalah sebesar-besar
perkara yang bisa mengantarkan ke pintu perzinaan !!! Data dan realita
telah membuktikan bahwa orang yang berpacaran pasti melakukan hal-hal seperti :

. Bergandengan tangan,
. saling memandang,
. Berpelukan
. Dan lain sebagainya yang sudah pasti anda ketahui apa yang orang berpacaran.

Lalu bagaimana hukum perabuatan yang mereka lakukan itu ?
Di dalam kitab Dzamm ul-Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Abu
Hurairah r.a. dan Ibn Abbas r.a., keduanya berkata, Rasulullah saw.
Berkhotbah,

* Barang siapa yang memiliki kesempatan untuk menggauli seorang wanita
atau budak wanita lantas dia melakukannya, maka Allah akan
mengharamkan surga untuknya dan akan memasukkan dia ke dalam neraka.

* Barang siapa yang memandang seorang wanita (yang tidak halal)
baginya, maka Allah akan memenuhi kedua matanya dengan api dan
menyuruhnya untuk masuk ke dalam neraka.

* Barang siapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita (yang) haram
(baginya) maka di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dibelenggu
tangannya di atas leher, kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam
neraka.

* Barang siapa yang bersenda gurau dengan seorang wanita, maka dia
akan ditahan selama seribu tahun untuk setiap kata yang diucapkan di
dunia. Sedangkan setiap wanita yang menuruti (kemauan) lelaki (yang)
haram (untuknya), sehingga lelaki itu terus membarengi dirinya,
mencium, bergaul, menggoda, dan bersetubuh dengannya, maka wanita itu
juga mendapatkan dosa seperti yang diterima oleh lelaki tersebut."

Jadi dapat disimpulkan bahwa BerPACARAN itu HARAM .

* Apa sih Gunanya Berpacaran ?

Banyak orang yang mengatakan bahwa PACARAN itu untuk mengenal Pasangannya atau Pengenalan sebelum menikah .
Tapi Faktanya , banyak yang sudah menikah dan sebelumnya telah ber-PACARAN sama sekali belum mengenal Pasangannya .
Bahkan ada pasangan yang sudah menikah dan sebelumnya lama ber-PACARAN bertahun-tahun akhirnya BERCERAI karena sudah bosan dengan pasangannya itu .
Jadi Pacaran bukanlah sarana pengenalan sebelum menikah , tapi merupakan alat untuk memuaskan hawa nafsu dua insan yang sedang di Mabuk Asmara .

* Apakah Nabi Muhammad SAW pernah ber-Pacaran ?

Tidak ada hadis atau Riwayat yang menyebutkan Rasulullah pernah berpacaran atau tidak . Namun dibawah ini dipaparkan mengenai bagaimana berlangsungnya proses yang menjadikan
Khadijah-Muhammad siap menikah:

1. TA'ARUF PASIF:

Khadijah mulai
naksir Muhammad lantaran mendengar kabar mengenai kemuliaan akhlak
beliau. Saat itu, masyarakat Makkah sedang ramai membicarakan Muhammad
bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran
hati, sementara para pemuda pada umumnya suka berfoya-foya. Khadijah
naksir itu bukan lantaran ketampanan atau pun kekayaannya. Malah, saat
itu Muhammad saw. merupakan pemuda yang miskin.

2. TA'ARUF AKTIF:

Khadijah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Muhammad melalui
perbincangan dalam tatap muka langsung. Pada mulanya, ketertarikan
Khadijah kepada Muhammad bukanlah dalam rangka kepentingan asmara,
melainkan bisnis. Kita tahu, Khadijah ialah seorang pengusaha kaya.
Lantas, Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya
berbincang-bincang mengenai perdagangan. Dengan perbincangan seperti
ini, Khadijah bisa mulai mengecek apakah benar bahwa Muhammad
berakhlak mulia.

3. TANAZHUR (TA'ARUF INTERAKTIF):

Khadijah dan Muhammad menjalin kerja
sama pengembangan karir. Melalui perbincangan tersebut tadi, Khadijah
menganggap bahwa Muhammad adalah sosok yang ia butuhkan untuk
berdagang ke negeri Syam. Muhammad pun menerima tugas itu dengan
senang hati. Dengan interaksi seperti ini, Khadijah dapat me-recheck
atau melakukan pengujian terhadap Muhammad sebelum benar-benar yakin
bahwa Muhammad memang berakhlak mulia.

4. TANAZHUR LANGSUNG: Khadijah mengalami sendiri indahnya menjalin
kebersamaan dengan Muhammad yang berakhlak mulia.Sepulangnya Muhammad
saw. dari negeri Syam, Khadijah menerima laporan langsung dari beliau
mengenai penunaian tugas berdagang tersebut tadi. Khadijah sangat
gembira dan terlihat antusias sekali menyimak laporan tersebut. Secara
demikian, tumbuhlah rasa cintanya kepada beliau. Dari hari ke hari,
cintanya semakin mendalam.

5. TANAZHUR BERJARING:

Khadijah memanfaatkan jaringan (network)-nya
untuk memperlancar interaksinya dengan Muhammad. Maisarah ialah orang
kepercayaan Khadijah yang menyertai Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun
menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan.
Laporan-laporannya mengenai kemuliaan Muhammad menjadikan Khadijah
semakin berhasrat untuk menjadi istri beliau.

6. TANAZHUR BERMEDIA:

Khadijah mengerahkan "agen cinta" untuk
memperlancar hubungannya dengan Muhammad. Dalam tradisi Arab ketika
itu, bila seorang perempuan kaya mendatangi seorang pemuda untuk
meminta menikahinya, maka itu dipandang memalukan. Untuk
menyiasatinya, Khadijah pun mengutus Nafisah, seorang kepercayaannya
lainnya, untuk membujuk Muhammad supaya mau melamar dirinya.

7. KHITBAH:

Muhammad melamar Khadijah untuk menjadi istri beliau.Di
depan keluarga Khadijah, Muhammad saw. melamarnya. Maharnya 20 ekor
unta. Lamaran pun diterima. Pernikahan itu sendiri dilaksanakan pada
waktu 2 bulan 15 hari setelah Muhammad datang dari Syam. Usia Muhammad
saat itu 25 tahun, sedangkan Khadijah 40 tahun.
Wallaahu a'lam.
Cemburu

Kuraih pena di meja
Kutulis namamu
Hanya namamu yang bisa kutulis
Karena aku sangat mencintaimu

Tapi mengapa siang tadi
Ku melihatmu bersama yang lain
Aku marah
karena aku cemburu
Tapi aku tidak mau kau tahu
karena aku tidak mau melukaimu

Aku hanya ingin tanya
Siapa dia yang bersamamu
Dia telah membuatku tidak bisa tidur
karena aku penasaran
Surat dari sahabat

Kuhirup segarnya pagi
Terasa sejuk di dadaku
Pak pos datang menyapaku
Membawa sepucuk surat tuk ku
Kubuka amplop wangi
Kulihat kalimat menyapaku
Dan kubaca bait demi bait
Membawaku pada sahabatku
Surat melepas rinduku
Rinduku semakin terlepas
Kubalas surat itu
Dengan kata-kata rinduku

Arti Persahabatan

Bagiku arti persahabatan adalah teman bermain dan bergembira. Aku juga sering berdebat saat berbeda pendapat. Anehnya, semakin besar perbedaan itu, aku semakin suka. Aku belajar banyak hal. Tapi ada suatu kisah yang membuat aku berpendapat berbeda tentang arti persahabatan. Saat itu, papa mamaku berlibur ke Bali dan aku sendirian menjaga rumah...

“Hahahahaha!” aku tertawa sambil membaca.

“Beni! Katanya mau cari referensi tugas kimia, malah baca komik. Ini aku menemukan buku dari rak sebelah, mau pinjam atau tidak? Kamu bawa kartu kan? Pokoknya besok kamis, semua tugas kelompok pasti selesai. Asal kita kerjakan malam ini. Yuhuuuu... setelah itu bebas tugas. PlayStation!” jelas Judi dengan nada nyaring.

Judi orang yang simpel, punya banyak akal, tapi banyak juga yang gagal, hehehe.. Dari kelas 1 SMA sampai sekarang duduk di kelas 2 - aku sering sekelompok, beda lagi kalau masalah bermain PlayStation – Judi jagoannya. Rasanya seperti dia sudah tau apa yang bakal terjadi di permainan itu. Tapi entah kenapa, sekalipun sebenarnya aku kurang suka main PlayStation, gara-gara Judi, aku jadi ikut-ikutan suka main game.

Sahabatku yang kedua adalah Bang Jon, nama sebenarnya Jonathan. Bang Jon pemberani, badannya besar karena sehari bisa makan lima sampai enam kali. Sebentar lagi dia pasti datang - nah, sudah kuduga dia datang kesini.

“Kamu gak malu pakai kacamata hitam itu?” Tanyaku pada Bang Jon yang baru masuk ke perpustakaan. Sudah empat hari ini dia sakit mata, tapi tadi pagi rasanya dia sudah sembuh. Tapi kacamata hitamnya masih dipakai. Aku heran, orang ini benar-benar kelewat pede. Aku semakin merasa unik dikelilingi dua sahabat yang over dosis pada berbagai hal.

Kami pulang bersama berjalan kaki, rumah kami dekat dengan sekolah, Bang Jon dan Judi juga teman satu komplek perumahan. Saat pulang dari sekolah terjadi sesuatu.

Kataku dalam hati sambil lihat dari kejauhan “( Eh, itu... )”.
“Aku sangat kenal dengan rumahku sendiri...” aku mulai ketakutan saat seseorang asing bermobil terlihat masuk rumahku diam-diam. Karena semakin ketakutannya, aku tidak berani pulang kerumah.
“Ohh iya itu!” Judi dan Bang Jon setuju dengan ku. Judi melihatku seksama, ia tahu kalau aku takut berkelahi. Aku melihat Judi seperti sedang berpikir tentangku dan merencanakan sesuatu.
“Oke, Beni – kamu pergi segera beritahu satpam sekarang, Aku dan Bang Jon akan pergoki mereka lewat depan dan teriak .. maling... pasti tetangga keluar semua” bisikan Judi terdengar membuatku semakin ketakutan tak berbentuk.

Karena semakin ketakutan, terasa seperti sesak sekali bernafas, tidak bisa terucapkan kata apapun dari mulut. “...Beni, ayo...satpam” Judi membisiku sekali lagi.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

“Ya Tuhan!” kaget sekali melihat seorang petugas satpam lain yang datang lebih awal dari pada aku saat itu sedang mengolesi tisu ke hidung Bang Jon yang berdarah. Terlihat juga tangan Judi yang luka seperti kena pukul. Satpam langsung menelpon polisi akibat kasus pencurian ini.

“Jangan kawatir... hehehe... Kita bertiga berhasil menggagalkan mereka. Tadi saat kami teriak maling! Ternyata tidak ada tetangga yang keluar rumah. Alhasil, maling itu terbirit-birit keluar dan berpas-pasan dengan ku. Ya akhirnya kena pukul deh... Judi juga kena serempet mobil mereka yang terburu-buru pergi” jawab Bang Jon dengan tenang dan pedenya.
Kemudian Judi membalas perkataan Bang Jon “Rumahmu aman - kita memergoki mereka saat awal-awal, jadi tidak sempat ambil barang rumahmu.”

Singkat cerita, aku mengobati mereka berdua. Mama Judi dan Ban Jon datang kerumahku dan kami menjelaskan apa yang tadi terjadi. Anehnya, peristiwa adanya maling ini seperti tidak pernah terjadi.
“Hahahahaha... “ Judi malah tertawa dan melanjutkan bercerita tentang tokoh kesayangannya saat main PlayStation. Sedangkan Bang Jon bercerita kalau dia masih sempat-sempatnya menyelamatkan kacamata hitamnya sesaat sebelum hidungnya kena pukul. Bagaimana caranya? aku juga kurang paham. Bang Jon kurang jelas saat bercerita pengalamannya itu.

“( Hahahahaha... )” Aku tertawa dalam hati karena mereka berdua memberikan pelajaran berarti bagiku. Aku tidak mungkin menangisi mereka, malu dong sama Bang Jon dan Judi. Tapi ada pelajaran yang kupetik dari dua sahabatku ini.

Arti persahabatan bukan cuma teman bermain dan bersenang-senang. Mereka lebih mengerti ketakutan dan kelemahan diriku. Judi dan Bang Jon adalah sahabat terbaikku. Pikirku, tidak ada orang rela mengorbankan nyawanya jika bukan untuk sahabatnya ( Judi dan Bang Jon salah satunya ).

Cerpen Cinta Remaja: "Seharusnya Kau Pergi"

“Aku nggak tau, maunya kamu itu apa. Udah jelas-jelas Fery itu suka banget sama kamu, sayang dan perhatian. Kenapa sich dia kamu putusin,” tanya Jeni yang nggak habis pikir tentang kelakuan Ega.

“Aku nggak suka sama dia,” jawab Ega lantang
“Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu terima dari awal, waktu dia nembak kamu?”
“Yach, aku kan nggak tau sikap dan sifat dia kayak itu. Ternyata udah dijalanin, aku rasa aku nggak cocok aja sama dia”.
“Tapi kan kalian baru sebulan jalan bareng. Kamu butuh waktu Ga, agar kamu tau banyak soal Fery”.
“Duh..... Jen. Waktu sebulan itu cukup lama. Mau berapa lama lagi sich? Lagian aku udah bosan sama dia”.

“Kamu nggak boleh gitu Ga. Fery itu orangnya baik. Salah apa sich dia sama kamu. Pokoknya aku nggak setuju kamu putus sama dia”.
“Lho ... koq jadinya kamu yang sewot. Ya udah, kamu aja yang pacaran sama dia. Atau jangan-jangan kamu tu naksir ya sama Fery, makanya ngebelain dia”.
“Bukan gitu Ga!”
“Lantas?”
“Aku nggak mau kamu kena batunya. Aku ini sahabat kamu. Aku nggak ingin terjadi apa-apa sama kamu”.


“Duh......perhatiannya. Tenang aja Jen, nggak akan terjadi apa-apa sama aku”.
“Iya, aku percaya, Ga. Sejak Irgi pergi dari kamu, kamu tu banyak berubah. Ega yang dulu nggak pernah nyakitin perasaan orang lain, Ega yang selalu setia, Ega yang punta warna hidup”.

“Ach ..... sudah Jen, semua itu masa lalu. Lupakan aja Ega yang dulu meskipun sikap aku udah berubah. Dan aku rasa soal Irgi nggak usah dibahas dech”.
“Tapi Irgi kan yang buat kamu jadi seperti ini Ga. Aku kasian sama kamu”.
“Kamu nggak perlu kasiani aku, aku nggak papa Jen”.
“Kamu nggak perlu bohong Ga. Kamu tu menderita karena orang yang paling kamu sayangi ningalin kamu tanpa membuat keputusan apapun. Aku kenal baik sama kamu Ga. Aku ingin kamu lupain Irgi”.

Ega terdiam. Sejurus diresapinya kata-kata Jeni barusan. Jeni memang benar, Ega harus membuang jauh-jauh masa lalu dan membuka kehidupan untuk kebahagiaan. Irwan, Doni, Jay, Boy, Tomi dan Fery salah apa mereka?
Tanpa diduga oleh Jeni, Ega memeluknya dengan erat. Gadis itu menangis di pelukan sahabatnya.

“Tapi aku nggak bisa Jen. Aku nggak bisa lupain Irgi. Aku cinta mati sama dia,” ujar Ega disela isaknya.
“Ss ....sst, kamu pasti bisa. Ingat Ega, cinta sejati itu adalah cinta kepada Tuhan. Kamu coba ya .....”.

Ega nuruti anjuran Jeni untuk menerima Fery kembali. Memang dia sayang banget sama Ega. Ega berharap keputusan yang diambilnya kali ini bukan merupakan kesalahan seperti yang dilakukannya saat dia menerima Irgi.

Biarpun Fery udah begitu baiknya, Ega tetap aja belum bisa menerima Fery sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupannya. Menurutnya, posisi Irgi belum bisa digantikan oleh siapapun termasuk Fery. Fery ngajak Ega ke sebuah cafe. Suasana cafe yang cukup romantis pas benar pilihan Fery untuk mengungkapkan semua perasaannya ke Ega.
“Ga, aku nggak tau dan entah apalagi yang bisa aku lakukan untuk yakini kamu, kalau aku benar-benar serius sama kamu. Aku ngerti kok, kalau hati kamu bukan untuk aku. Aku nggak bisa mengantikan posisi Irgi di hati kamu”.
“Irgi...? Kok kamu tau?”

“Jeni udah cerita banyak tentang kamu. Maaf, mungkin aku terlalu lancang tau soal kamu. Tapi ini aku lakukan karena aku bingung dengan sikap kamu. Kita sudah hampir dua bulan pacaran, tapi nggak seperti orang pacaran lazimnya. Aku sadar Ga, aku nggak akan bisa bahagiakan kamu”.

Fery menarik napas dalam-dalam. “Aku nggak peduli perasaan kamu ke aku seperti apa, tapi kamu harus tau aku benar-benar sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, Ga.
Streett....!! tanpa diduga jus tomat Ega tumpah, sehingga membasahi jeans yang dikenakan Ega.

“Kok bisa gini Ga? Kamu sich melamun aja,” kata Fery sembari membersihkan celana Ega dengan tissue. Ega membiarkan Fery melakukan itu. Nggak biasanya dia seperti itu.
“Dah selesai,” kata Fery.
Ega kaget. Berarti dari tadi Fery membersihkan celananya, Ega terus melamun.
“Thanks ya Fer. Duh .. jadi nggak enak nich”.
“Nggak apa-apa Ga”.

“Aku ke toilet sebentar ya Fer”.
Ega ke toilet yang berada di sebelah kanan pintu keluar.
“Oh Tuhan...., kenapa aku selalu deg-degan terus bila dekat sama Fery, padahal sebelaumnya nggak gitu. Dia baik banget, aku nggak tega kalau nyakitin dia. Mungkin Jeni benar, aku harus menerima Fery jadi soulmateku, dan aku akan berusaha belajar mencintainya,” pikir Ega dalam hati.
Pas mau masuk ke toilet, tiba-tiba mata Ega terbentur dengan sosok yang nggak asing lagi buatnya.
“Irgi ....?”
“Ega......kenapa ada di sini?”
“Kamu sendiri? Aku lagi makan bareng sama teman”.
“Dengan siapa kemari? Dengan pacar kamu?”
Bussyet Irgi ngeledek atau serius.
“Nggak, teman.”
“Kamu masih sendiri Ga?”
“He eh”.
“Sama donk kalau gitu”.
“Kenapa ya aku nggak ngerasain hal yang sama pada Irgi seperti yang aku rasakan waktu dengan Fery,” pikirku
“Berarti aku bisa donk jalan lagi sama kamu,” tanya Irgi.
Ega bingung dengan pertanyaan Irgi barusan.
“Boleh”.
“Ga, aku cabut dulu, teman-teman nunggu tuh...”.

***

“Jen, gimana nich? Ntar malam Irgi ngajak aku kencan.”
“Kencan apaan?”
“Jen, aku bingung banget. Tau nggak, dia ngajak aku balikan”.
“Nggak bisa Ga. Aku nggak setuju”.
“Tapi aku masih sayang sama dia. Dia nggak berubah Jen. Lagian kami kan belum putus”.
“Kamu tu gila ya Ga. Irgi tu udah ninggalin kamu, terus sekerang dia ngajakin kamu pacaran lagi. Kamu tu jangan bego Ga”.
“Tapi aku senang kalau bisa jalan sama dia lagi. Masalahnya Fery, Jen. Gimana Fery?”
“Aku nggak bisa bantu kamu soal ini. Aku nggak ikut dalam perbuatan konyol kamu”.
“Ya udahlah, Jen”.
Jeni ninggalin Ega. Sementara Ega masa bodoh dengan omongan Jeni.
Malamnya Irgi menjemput Ega. Irgi membawa Ega ke tempat yang nggak kalah romantisnya dengan waktu Fery ngajak Ega.
“Ga, aku minta maaf”.

“Soal apa?”
“Aku tau, mungkin permintaan maaf aku ini nggak cukup buat nebus kesalahan aku sama kamu. Aku ninggalin kamu gitu aja,” hati-hati Irgi melanjutkan kata-katanya.
“Waktu itu aku nggak tega mutusin kamu, makanya aku pergi ninggalin kamu”.
Ega terdiam, kegetiran menyelimuti perasaannya. Luka lamanya tertoreh kembali oleh perkataan Irgi yang mengingatkannya pada penderitaan yang ia rasakan sepeninggalan Irgi darinya.

“Ga, maafin aku. Sebenarnya waktu kita masih pacaran dulu, aku udah menjalin hubungan dengan cewek lain, namanya Nela. Aku membandingkan kamu dengan Nela, dengan tujuan ingin mencari yang terbaik diantara kalian berdua. Dengan Nela aku mendapatkan sesuatu yang nggak aku dapat dari kamu. Makanya aku putuskan bahwa Nela adalah pilihan hatiku”.
Air mata yang indah ditahan Ega dari tadi nggak bisa lagi diajak kompromi, kini bergulir di kedua pipinya.

“Aku pergi dari kehidupan kamu dengan harapan aku bisa bahagia dengan Nela. Tapi kenyataannya lain, Nela nggak cuma milik aku, dia juga milik cowok-cowok lain. Sejak aku tau Nela seperti itu, aku putus sama dia, dan setelah itu aku kesepian. Waktu itu aku sempat berpikir untuk kembali sama kamu, tapi aku takut kamu nggak mau menerima aku. Akhirnya kita bertemu di cafe itu. Waktu itu semangat dan keberanianku muncul, karena aku yakin dari tatapan mata kamu, masih ada cinta buat aku,” kata Irgi.
Ega mengatur napas. Tampaknya sulit untuk bicara, karena isakan tangis.

“Aku nggak bisa, Ir”.
“Kenapa?” Irgi terkejut dengan ucapan Ega yang nggak pernah dia duga.
“Aku ingin mencari kebahagiaan seperti halnya kamu. Dan aku rasa kebahagiaan itu nggak aku dapatkan dari kamu, tapi dari orang lain.”
“Siapa orang itu, Ga”.
“Kamu nggak perlu tau siapa dia”.
“Tapi aku yakin, Ga, kamu hanya cinta sama aku.”
“Kamu benar, Ir. Aku memang sangat cinta sama kamu, dan aku sulit untuk ngelupain kamu, tetapi bukan berarti aku nggak bisa melupakan kamu.”
“Tapi gimana dengan aku, Ga. Kamu harus mikirin aku donk!”
“Waktu kamu ninggalin aku, kamu pernah mikir nggak dengan perasaan aku. Nggak pernah kan, Ir?”
“Tapi ....”
“Ir, serbaiknya kamu lupain semua tentang kita. Itu semua masa lalu, dan aku rasa nggak seharusnya kamu ada di sini, aku nggak mengharapkan kehadiran kamu. Pergilah Ir, kamu harus mencari cinta kamu, karena cinta kamu bukan aku.
***
“Hei .....ngelamun terus. Tuh Fery nungguin di bawah, Ga. Kayaknya dia ada sesuatu untuk kamu,” Jeni mengejutkan Ega, sehingga lamunannya berhamburan entah kemana.
“Apa....?”
“Nggak tau. Lihat aja sendiri”.
“Apaan nich Fer?”
“Ntar aja dibuka”.
“Makasih ya”.
Seharian Ega berduaan sama Fery ngerayaan ultahnya Ega yang ke 21. Ega mulai suka sama Fery. Ega nggak sia-sia belajar mencintai dia, karena sekarang Ega memang cinta sama dia.
“Oh ya, Ga, handphone kamu ketinggalan. Tadi aku lihat ada satu missed call dan satu message. Coba lihat”.
Ega meraih handphone di tempat tidurnya. Satu nomor baru, ada satu pesan lagi.
“Selamat Ulang Tahun Ega,” tulis Irgi di handphone itu.

Rina Eriska S
Perawat Puskesmas Lubuk Dalam, Kec Lubuk Dalam, Kab Bengkalis.
Cerpen Cinta Pertama
-------------------------
Judul: First Love Never Die (Kisah Guruku)

Cerpen Cinta Pertama
Embun pagi masih merayapi batang daun yang hijau, matahari bersembunyi di balik awan. Namun aku sudah berdiri menatap langit yang masih putih. Hari ini terasa aneh bagiku, biasanya saat ini aku masih terlelap di atas kasur. Tapi karena mata tak bisa terpejam, memaksaku untuk mencari udara segar, menghilangkan rasa gelisah yang selalu menderaku.


Aku gelisah karena rindu. Rindu akan rumah, rindu pada keluarga di kampung, terutama rindu padanya. Aku kuliah di kota dan meninggalkan mereka di sana. Ingin sekali aku berjumpa dengannya. Dia yang telah mengisi relung hatiku selama tujuh tahun.

Di bawah pohon depan kost aku duduk santai sambil menikmati cuaca dingin di pagi hari. Di mana orang-orang masih enggan melepas mimpi indah, apalagi ini ‘kan baru pukul empat, mana ada yang terjaga sepertiku.
Dengan ditemani cappuccino hangat aku terhanyut dalam khayalan yang berisi kenanganku bersamanya. Orang yang pertama kali singgah di hatiku dan mungkin akan menjadi yang terakhir. Dia dua tahun lebih tua dariku. Kami bertemu saat aku masih duduk di bangku SMP. Kami selalu pulang bareng karena rumah kami berdekatan. Awalnya aku tak ada rasa dengannya, tapi karena kami sering berjumpa di rumah maupun di sekolah membuat rasa ini muncul. Kedekatan kami pun juga karena ayahnya adalah orang bawahan ayahku.

Waktu itu aku masuk ke SMA yang berbeda dengannya, namun setelah tiga bulan, aku tak betah. Kemudian ayahku menyuruh memasukkanku ke sekolah yang sama dengannya. Ia menjadi senang karena kami bisa satu sekolah lagi. Dan kami pun menjadi tambah dekat. Lalu lama-kelamaan hubunganku ini diketahui oleh ayahku. Dia sangat marah. Memang ayah tidak setuju kalau sampai aku menyukainya. Ketika mendengar kabar dari sekolah bahwa kami sering berduaan, ayah lalu menyuruh orang bayaran untuk memberi pelajaran padanya. Tapi hal itu tak membuat ia berhenti menemuiku. Kami pun bertemu secara diam-diam.

Suara gema adzan membawaku kembali ke alam nyata.
Huuh… Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kenapa ia tidak datang, padahal ia sudah janji akan datang Sabtu kemarin. Apa yang terjadi dengannya?

***

“Lyza… Lyza!” aku mendengar orang memanggilku.
“Yola…ada apa?” ternyata cewek tambun yang se-kost denganku datang dengan nafas terengah-engah.
“Lyz…eng…itu aku mau bilang..itu…Ibumu sakit!”
“Apa? Masak iya, tahu dari mana?” aku langsung terkejut mendengar Ibuku sakit.
“Dari kampung, ada yang menelponku. Ng…kita ke kampung sekarang!” perintahnya.
“Aneh, kok gak ada yang beritahu aku?”
“Udahlah, pokoknya kita ke kampung sekarang.” Tanpa menunggu jawabanku, Yola langsung menarikku pulang. Lalu kami pun bergegas ke kampung.

***

Setibanya di kampung, aku merasakan suatu keganjilan di rumah pacarku. Kenapa berdiri sebuah tenda biru? Kebetulan aku dan Yola lewat depan rumah pacarku dan melihatnya di depan teras. Sewaktu ia melihatku, ia langsung lari masuk ke dalam rumah. Hatiku bertanya-tanya kenapa ia aneh begitu.
Sebelum tiba di rumah aku bertemu dengan Ibu pacarku di jalan. Aku pun langsung bertanya padanya, ada acara apa di rumahnya. Ibunya langsung menceritakan semuanya dan tanpa disadari aku menangis. Tiba-tiba pacarku datang dari arah belakang. Dia meminta maaf kepadaku, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia juga bilang kalau ia sangat mencintaiku. Kemudian di depan kedua orang tuanya kami berpelukan dan sama-sama menangisi akhir dari kisah kami.

Sesampainya di rumah aku langsung marah-marah tak karuan. Kedua orang-tuaku heran melihatku bertingkah aneh seperti itu. Yola lalu memberitahu mereka kejadian yang memang sudah ia ketahui sebelumnya. Orang-tuaku pun menasehatiku untuk mencari pasangan yang lebih sepadan dan lebih setia. Aku sangat tidak bisa menerima keputusannya itu.

Aku kembali lagi ke kota setelah mengetahui ternyata Ibuku baik-baik saja. Semenjak itu aku menjadi bertambah aneh, emosiku sering tak terkendali, setiap melihat sesuatu yang tajam, durian misalnya, ingin sekali kutancapkan ke kepalaku. Teman-temanku pun merasa risih atas sikapku, karena setiap teman laki-laki mereka ke kost aku selalu memarah-marahi mereka tanpa sebab. Pernah teman-temanku mengikatku dengan selimut di kursi karna aku mengamuk dan ingin bunuh diri.

Suatu ketika ada seorang pria yang bekerja di rumah sakit jiwa di sekitar kost, dia teman dari salah satu temanku. Dia melihatku membentak-bentak temanku tanpa alasan, sikapku itu sudah dimaklumi teman-temanku yang lain. Dan ketika aku membanting pintu, ia terkejut dan bertanya ada apa dengan gadis yang menarik perhatiannya.

Setelah mengetahui apa masalahku, ia pun menemuiku. Aku marah dengan kehadirannya yang tanpa izin. Lalu pria itu menyembur mukaku dengan air, dia kira aku kesurupan. Tapi ketika ia salah paham, lantas ia tertawa. Kemudian ia menarik tanganku, mengajakku duduk di teras. Tiba-tiba saja aku mengeluarkan semua masalah yang membebani hatiku dan aku menangis sejadi-jadinya di depan orang yang baru kukenal. Setelah selesai bercerita, ia menyuruhku mandi bersihkan diri lalu mengajakku makan bakso di sekitar situ. Entah mengapa kalau berada di sampingnya hatiku tenang sekali dan kehadirannya itu membuatku melupakan segala masalahku.

Seminggu kemudian di mana aku sudah kembali normal, aku mendapat kabar kalau mantan pacarku akan segera menikah.

“Lho, Lyza kok gak dapat undangannya,” tanyaku pada Yola.
“Dia gak mau ngasih tahu kamu, Lyz. Takutnya kamu ngedrop lagi.” Namun Randi, pria yang minggu lalu menenangkanku malah mengajakku ke sana.
“Gak ah mas, malas bolak-balik ke sana.”
“Kenapa, takut? Katanya gak ada rasa lagi.” Karena itu aku terpaksa pergi pada esoknya ke pesta pernikahannya Dicky.

***

Di pesta pernikahannya itu, aku sudah bisa membiasakan hatiku untuk melepasnya. Saat aku bersalaman dengannya, ia menangis. Lalu ia melihat mas Randi dan menyuruhnya untuk menjagaku serta jangan pernah menyakitiku. Sebenarnya aku masih sangat mencintainya. Tapi kami tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya. Karena sesuatu yang membuatnya terpaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya sama sekali.

Ayahku-lah yang sangat tidak menyukai hubungan kami. Waktu kak Dicky tak bisa menemuiku pada hari Sabtu, ayah menjumpainya dan keluarganya tanpa sepengetahuanku. Ayah memaki-makinya dan memarahi ayahnya. Ayah mengatakan kalau mereka tak pantas. Ayah sangat menghargai statusnya yang lebih tinggi dari ayahnya. Karena sakit hati orangtuanya lalu mencarikan jodoh yang lain untuknya.

Aku pun mengerti keadaan yang harus kuterima. Dan untuk melupakannya ku serahkan kembali semua yang pernah ia berikan padaku termasuk puisi-puisinya. Itulah mengapa istrinya heran dan bertanya kepadaku hadiah apa yang telah kuberikan kepadanya sehingga istrinya tidak boleh membukanya. Lalu masalah itu kuselesaikan dengan segera. Kutemui ia lalu menyuruhnya untuk memperlihatkan hadiah dariku pada istrinya.

“Untuk apa disembunyikan, lihatkanlah hadiah itu pada istri kakak biar dia tenang, adek gak mau ada masalah lagi di antara kita.” Dengan berat hati ia perlihatkan sebuah kotak musik, kalung dan sebagainya pada istrinya.
Semenjak itu aku jarang bertemu dengannya, tapi kami masih berkomunikasi seperti biasa dalam jarak jauh, hingga sekarang.